Senin, 13 Februari 2017

Pencetak Generasi Terbaik

PERAN IBU DALAM MENCETAK GENERASI PARA MUJAHID TANGGUH


Status seorang wanita Muslimah dalam Islam :
Saat lahir, Ia menjadi jalan surga bagi kedua orang tuanya
Saat menikah, Ia menyempurnakan separuh agama suaminya
Saat menjadi Ibu, Surga berada di telapak kakinya.
Tentu bagi mereka yang berusaha ta’at kepada syariat-Nya.Masyaa Allah, luar biasa bukan?
Namun kita tak bisa dipungkiri, bahwa sungguh menjadi seorang ibu adalah fase terpenting dalam perjalanan seorang muslimah.
Begitu pentingnya sehingga banyak sekali dalil baik dari al qur’an maupun hadits Rasulullah saw yang mengangkat tentang ibu,baik tentang tugas dan kewajibanya maupun tentang keistimewaannya.
Mereka adalah Wanita yang kuat, laksana samudera dengan sejuta pesona terpendam.Serupa angin yang menyimpan kekuatan tak tampak mata.
Karena sedemikian pentingnya keberadaan sosok ibu, orangnya tak tergantikan oleh siapapun.
Sebagai hamba Allah yang senang tiasa menta’ati-Nya,seorang istri yang berbakti kepada suaminya,serta menjadi seorang ibu bagi putra-putrinya yang kelak menjadi generasi mujahid yang tangguh or menjadi generasi pejuang Islam pemimpin ummat di masa mendatang.
Tapi tidak sedikit para ibu yang tidak memahami berbagai peran mulia ini.Terlebih dalam sistem kapitalis sekuler yang akhirnya menyeret para ibu untuk meninggalkan tugas dan kewajiban utamanya demi tuntutan materi, karir, dan profesionalitas.
Bahkan tidak sedikit fenomena ini kita temui di kalangan aktivis dakwah.Ada yang sibuk dengan dakwah hingga anak-anak dan rumah tangganya terbengkalai.
Namun, ada juga yang karena kesibukannya dalam mengurus rumah tangga hingga melalaikan amanah dan kewajibannya sebagai hamilud dak’wah.
Tidak sedikit pula yang paham, namun tidak tahu apa yang harus di lakukan agar semua peran bisa seiring sejalan.
Lantas bagaimana sebenarnya panduan Islam sebagai agama yang sempurna dalam memberikan panduan bagi para ibu sebagai pencetak generasi pejuang agar sukses dunia dan akhirat?
--> MEMPERSIAPKAN GENERASI PARA MUJAHID TANGGUH & PEJUANG ISLAM
Menjadi generasi pejuang Islam bukanlah hal yang mudah, namun bukan berarti pula hal tersebut mustahil untuk direalisasikan.
Maka seharusnyalah,generasi pejuang yang siap memuliakan Islam dicetak sedini mungkin.
Mulai dari tahap memilih pendamping,masa hamil,melahirkan dan menyusui hingga ketika calon pejuang Islam ini tumbuh dari masa anak-anak/pra balik/dan akhirnya menjalani masa baligh.
1.Pernikahan: Di awali dengan memilih calon pendamping karena agama,menjalani proses ta’aruf hingga pernikahan semata-mata hanya ingin meraih ridho Allah dan berusaha ta’at pada syariat-Nya.Karena niat yang salah bisa berakibat fatal pada akhirnya,dan prosesi yang salah bisa mengugurkan pahala dan ridho-Nya.
2.Masa Mengandung,Melahirkan, dan Menyusui: Ketika Allah menitipkan amanah berupa janin yang kini berada di perut,disinilah Fase awal mendidik calon pejuang.Untuk itu,rasa syukur dan sabar haruslah senang tiasa dijaga,karena fase-fase berat akan segera menghampiri.
Rasa syukur dibuktikan dengan cara tetap menjalani amanah dan aktifitas sebaik mungkin (Jangan pernah menjadikan calon bayi yang di kandung sebagai penghalan,or bahkan kambing hitam untuk membiarkan kelalaian) sambut ia dengan rasa suka cita.
Mulailah dengan menjalin komunikasi,merangsang pendengaran bayi dengan baca’an Al- qur’an,berdo’a dan bermunajah untuk memiliki anak pejuang,
Sebagaimana hadits dari Abu Hurairah,beliau berkata: Rasulullah saw bersabda: “tiga do’a yang tidak lagi ada keraguan akan di kabulkan oleh Allah swt yaitu : do’a orang yang di zholimi, do’a orang melakukan perjalanan, dan do’a orang tua terhadap anaknya (Hr. Tirmidzi dan Ahmad).
Adapun rasa sabar di buktikan melalui pengendalian emosi,dan tetap ta’at dengan syariat-nya.Pun ketika ia telah lahir,jangan pernah terbesit bahwa kehadirannya adalah beban,melainkan anugrah.
Berilah nama yang terbaik,sebagaimana hadits dari Abu Darda,beliau berkata : Rasulullah saw bersabda: “ Sesungguhnya kalian pada hari kiamat nanti akan dipanggil dengan nama kalian dan nama bapak kalian maka perbaikilah nama kalian. (HR. Abu Dawud dengan sanad Hasan).
Menjalin komunikasi dan mulai mengajarkan lafas ayat-ayat Allah terlebih saat menyusui,selain menjalin kedekatan juga efektif dalam membantu sang bayi mulai menghafal ayat-ayat Allah.
3.Saat usia dini merupakan masa golden age di mana sang anak menjalani masa adaptasi dan menjiblak apa yang ada di sekitarnya,terutama apa yang di lihat orang tuanya.
Disinilah peran orang tua khususnya ibu untuk melakukan stimulasi yang menyentuh aspek akal dan naluri,mengajarkan adab,akhlak yang baik, dan mulai membekalinya dengan tsaqofah Islam seperti siroh Nabi dan sahabat,ilmu al- qur’an,dsb.
Rasa ingin tahu sang anak yang besar menjadikan seorang ibu harus tanggap dan cerdas dalam menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkannya.
4.Usia pra baligh: Saat dimana mulai muncul perhatian terhadap lawan jenis sehingga pembiasaan terkait pemisahan anak laki-laki dan perempuan, menjelaskan hukum pergaulan dan batasan-batasan aurat.
Masa ini juga merupakan masa dimana anak mulai peka terhadap lingkungan sehingga mulai dilatih kepekaannya dalam membaca kondisi ummat Islam mulai dari yang ada di sekitarnya sampai kondisi ummat Islam di negeri muslim lainnya.
5.Usia baligh: Masa dimana dia menjadi sosok manusia yang telah siap untuk “Taklif hukum” sehingga perlu untuk memantapkan akidahnya dengan mulai mengikuti perhalaqohan secara intensif,memunculkan kesadaran dalam dirinya tentang berbagai kewajiban diantaranya kewajiban untuk terikat hukum syarah,berda’wah,dsb.
Di samping itu,dia telah memiliki jiwa kepemimpinan sehingga dilatih untuk hidup berjama’ah (berorganisasi) seperti di lingkungan sekolahnya,menyusun target-target dan mengevaluasinya, dan mengelola suatu kegiatan besar dalam momen-momen tertentu.
Adapun menurut Al- Munawy dalam Faidhu al- Qadir bahwa mendidik anak adalah dengan melatih jiwa mereka,mendidik dengan akhlak yang baik dan melatih mereka untuk melakukan tuntunan-tuntunan syara’. Memuliakan mereka tidak dengan kemewahan dunia dan melampiaskan keinginan mereka namun mendidik mereka dengan adab-adab yang terpuji baik ucapan maupun tindakan.
--> MENANAMKAN AQIDAH ISLAM
Pendidikan aqidah merupakan pendidikan dasar yang pertama yang harus di tanamkan orang tua kepada anaknya, karena ia merupakan landasan kepribadian sang anak sekaligus menjadi pandangan hidupnya.
Ex:
Mengajarkan kepada Anak tentang sifat-sifat Allah, dan hanya Dialah satu-satunya tempat meminta,konsep Qadha dan qadar,rezeki,ajal,tawakkal.
Menanamkan kecintaan kepada Rasulullah saw dan sunnahnya,juga kecintaan kepada al-qur’an dan memotivasi untuk menghafalnya.
Menceritakan siroh dan kisah para Nabi dan Rasul dalam membela dan memperjuangkan aqidah yang haq.Misalnya: Kisah Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Yusuf, Nabi Isa, Rasulullah SAW termasuk para sahabat r.a seperti Bilal bin Rabah, Keluarga Yassir, Mush’ab bin Umair,dll.
Menjauhkan mereka dari media baik cetak maupun elektronik yang berisi kemusyrikan dan hal-hal yang bertentangan dengan syariah seperti yang berisi kekerasan dan pornografi sembari menjelaskan kesalahan dan kebathilan tayangan tersebut.
Menuturkan kepadanya riwayat-riwayat yang shahih mengenai gambaran surga dengan segala kenikmatannya dan neraka dengan berbagai azabnya yang pedih.
Dengan demikian sejak dini anak telah memiliki gambaran yang benar tentang perkara-perkara gaib sehingga dapat memberikan pengaruh dalam kehidupannya.
-->MENGAJARKAN POKOK-POKOK SYARIAH
Diantaranya mengajarkan sholat,adzan,sholat berjama’ah,puasa,hukum-hukum seputar pergaulan,thaharah, tata cara berpakaian,memberikan makanan dan minuman yang halal.
Di samping itu juga mengajari pentingnya jihad fiy sabilillah,membiasakan amar makruf dan nahi munkar, dan membudayakan akhlakul karimah seperti menjauhi sifat-sifat tercela,berbuat baik kepada kedua orang tua,menghormati yang lebih tua,menjaga adab meskipun sedang bermain,membudayakan adab-adab makan,minum,berbicara maupun bermajelis,dsb.
-->KETELADANAN DARI KE-DUA ORANG TUANNYA
Adapun cara yang paling efektif dalam mendidik anak menjadi generasi mujahid tangguh or menjadi pejuang Islam adalah Dengan keteladanan dari orang tua.
Jika orang tua menunjukkan semangat berjuang dan berkorban kepada anak-anaknya,yang bisa dilihat oleh si anak dalam mendakwahkan Islam,maupun dalam perbincangan sehari-hari di keluarga, maka dengan sendirinya telah menanamkan semangat juang kepada anak.
Ditambah dengan melibatkan anak dalam aktivitas dakwah,mensuasanakan rumah dengan aktivitas halaqoh,menghadiri tatsqif,dsb.
Biasakan anak berinteraksi dengan para aktivis dakwah yang mukhlis dengan membiasakan mengajak mereka ditiap-tiap tatsqif yang diikuti.
Karena inshaa Allah, interkasi dengan orang-orang yang mencintai dakwah dan jihad di jalan Allah ditambah dengan keteladanan dan pembiasaan dari orang tua merupakan sarana yang sangat efektif untuk menanamkan semangat juang dan jiwa rela berkorban demi kemulian Islam dari pada sang anak.
-->PENUTUP
Mungkin yang terbayang dalam benak kita (baik yang masih gadis, calon ibu, maupun bagi yang sudah menjadi ummu), bahwa betapa beratnya tugas seorang ibu.
Namun, bersusah payah saat mereka masih usia dini adalah lebih mudah ketimbang mengarahkan mereka ketika telah beranjak dewasa.Bukankah demikian???
Sebelum mengakhir tulisan singkat ini, sepotong do’a terucap: Semogai Allah merahmati kita dengan anak-anak yang shalih dan shalihah calon pejuang Islam dengan tetap menapaki jalan dakwah sebagimana dalam firman-Nya:
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyeruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar,dan beriman kepada Allah.” (QS.Ali Imran :110).


Wallahu a’lam
Referensi:
1.Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia.”Selamatkan Generasi dari Kapitalisasi dan Liberalisasi pendidikan”
2.Muh.Ishak dan Alik Munfaidah.”Mendamba Anak Shaleh”
3.Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia.2014.”Cermin Wanita Shalihah” Edisi 6.
4.Media politik dan dakwah “al- wa’ie” Maret 201

Tidak ada komentar:

Posting Komentar