PERAN IBU DALAM MENCETAK GENERASI PARA MUJAHID TANGGUH
Status seorang wanita Muslimah dalam Islam :
Saat lahir, Ia menjadi jalan surga bagi kedua orang tuanya
Saat menikah, Ia menyempurnakan separuh agama suaminya
Saat menjadi Ibu, Surga berada di telapak kakinya.
Tentu bagi mereka yang berusaha ta’at kepada syariat-Nya.Masyaa Allah, luar biasa bukan?
Namun kita tak bisa dipungkiri, bahwa sungguh menjadi seorang ibu adalah fase terpenting dalam perjalanan seorang muslimah.
Begitu pentingnya sehingga banyak sekali dalil baik dari al qur’an
maupun hadits Rasulullah saw yang mengangkat tentang ibu,baik tentang
tugas dan kewajibanya maupun tentang keistimewaannya.
Mereka
adalah Wanita yang kuat, laksana samudera dengan sejuta pesona
terpendam.Serupa angin yang menyimpan kekuatan tak tampak mata.
Karena sedemikian pentingnya keberadaan sosok ibu, orangnya tak tergantikan oleh siapapun.
Sebagai hamba Allah yang senang tiasa menta’ati-Nya,seorang istri yang
berbakti kepada suaminya,serta menjadi seorang ibu bagi putra-putrinya
yang kelak menjadi generasi mujahid yang tangguh or menjadi generasi
pejuang Islam pemimpin ummat di masa mendatang.
Tapi tidak
sedikit para ibu yang tidak memahami berbagai peran mulia ini.Terlebih
dalam sistem kapitalis sekuler yang akhirnya menyeret para ibu untuk
meninggalkan tugas dan kewajiban utamanya demi tuntutan materi, karir,
dan profesionalitas.
Bahkan tidak sedikit fenomena ini kita
temui di kalangan aktivis dakwah.Ada yang sibuk dengan dakwah hingga
anak-anak dan rumah tangganya terbengkalai.
Namun, ada juga yang
karena kesibukannya dalam mengurus rumah tangga hingga melalaikan
amanah dan kewajibannya sebagai hamilud dak’wah.
Tidak sedikit pula yang paham, namun tidak tahu apa yang harus di lakukan agar semua peran bisa seiring sejalan.
Lantas bagaimana sebenarnya panduan Islam sebagai agama yang sempurna
dalam memberikan panduan bagi para ibu sebagai pencetak generasi pejuang
agar sukses dunia dan akhirat?
--> MEMPERSIAPKAN GENERASI PARA MUJAHID TANGGUH & PEJUANG ISLAM
Menjadi generasi pejuang Islam bukanlah hal yang mudah, namun bukan berarti pula hal tersebut mustahil untuk direalisasikan.
Maka seharusnyalah,generasi pejuang yang siap memuliakan Islam dicetak sedini mungkin.
Mulai dari tahap memilih pendamping,masa hamil,melahirkan dan menyusui
hingga ketika calon pejuang Islam ini tumbuh dari masa anak-anak/pra
balik/dan akhirnya menjalani masa baligh.
1.Pernikahan: Di awali
dengan memilih calon pendamping karena agama,menjalani proses ta’aruf
hingga pernikahan semata-mata hanya ingin meraih ridho Allah dan
berusaha ta’at pada syariat-Nya.Karena niat yang salah bisa berakibat
fatal pada akhirnya,dan prosesi yang salah bisa mengugurkan pahala dan
ridho-Nya.
2.Masa Mengandung,Melahirkan, dan Menyusui: Ketika
Allah menitipkan amanah berupa janin yang kini berada di perut,disinilah
Fase awal mendidik calon pejuang.Untuk itu,rasa syukur dan sabar
haruslah senang tiasa dijaga,karena fase-fase berat akan segera
menghampiri.
Rasa syukur dibuktikan dengan cara tetap menjalani
amanah dan aktifitas sebaik mungkin (Jangan pernah menjadikan calon bayi
yang di kandung sebagai penghalan,or bahkan kambing hitam untuk
membiarkan kelalaian) sambut ia dengan rasa suka cita.
Mulailah
dengan menjalin komunikasi,merangsang pendengaran bayi dengan baca’an
Al- qur’an,berdo’a dan bermunajah untuk memiliki anak pejuang,
Sebagaimana hadits dari Abu Hurairah,beliau berkata: Rasulullah saw
bersabda: “tiga do’a yang tidak lagi ada keraguan akan di kabulkan oleh
Allah swt yaitu : do’a orang yang di zholimi, do’a orang melakukan
perjalanan, dan do’a orang tua terhadap anaknya (Hr. Tirmidzi dan
Ahmad).
Adapun rasa sabar di buktikan melalui pengendalian
emosi,dan tetap ta’at dengan syariat-nya.Pun ketika ia telah
lahir,jangan pernah terbesit bahwa kehadirannya adalah beban,melainkan
anugrah.
Berilah nama yang terbaik,sebagaimana hadits dari Abu
Darda,beliau berkata : Rasulullah saw bersabda: “ Sesungguhnya kalian
pada hari kiamat nanti akan dipanggil dengan nama kalian dan nama bapak
kalian maka perbaikilah nama kalian. (HR. Abu Dawud dengan sanad Hasan).
Menjalin komunikasi dan mulai mengajarkan lafas ayat-ayat Allah
terlebih saat menyusui,selain menjalin kedekatan juga efektif dalam
membantu sang bayi mulai menghafal ayat-ayat Allah.
3.Saat usia
dini merupakan masa golden age di mana sang anak menjalani masa adaptasi
dan menjiblak apa yang ada di sekitarnya,terutama apa yang di lihat
orang tuanya.
Disinilah peran orang tua khususnya ibu untuk
melakukan stimulasi yang menyentuh aspek akal dan naluri,mengajarkan
adab,akhlak yang baik, dan mulai membekalinya dengan tsaqofah Islam
seperti siroh Nabi dan sahabat,ilmu al- qur’an,dsb.
Rasa ingin
tahu sang anak yang besar menjadikan seorang ibu harus tanggap dan
cerdas dalam menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkannya.
4.Usia pra baligh: Saat dimana mulai muncul perhatian terhadap lawan
jenis sehingga pembiasaan terkait pemisahan anak laki-laki dan
perempuan, menjelaskan hukum pergaulan dan batasan-batasan aurat.
Masa ini juga merupakan masa dimana anak mulai peka terhadap lingkungan
sehingga mulai dilatih kepekaannya dalam membaca kondisi ummat Islam
mulai dari yang ada di sekitarnya sampai kondisi ummat Islam di negeri
muslim lainnya.
5.Usia baligh: Masa dimana dia menjadi sosok
manusia yang telah siap untuk “Taklif hukum” sehingga perlu untuk
memantapkan akidahnya dengan mulai mengikuti perhalaqohan secara
intensif,memunculkan kesadaran dalam dirinya tentang berbagai kewajiban
diantaranya kewajiban untuk terikat hukum syarah,berda’wah,dsb.
Di samping itu,dia telah memiliki jiwa kepemimpinan sehingga dilatih
untuk hidup berjama’ah (berorganisasi) seperti di lingkungan
sekolahnya,menyusun target-target dan mengevaluasinya, dan mengelola
suatu kegiatan besar dalam momen-momen tertentu.
Adapun menurut
Al- Munawy dalam Faidhu al- Qadir bahwa mendidik anak adalah dengan
melatih jiwa mereka,mendidik dengan akhlak yang baik dan melatih mereka
untuk melakukan tuntunan-tuntunan syara’. Memuliakan mereka tidak dengan
kemewahan dunia dan melampiaskan keinginan mereka namun mendidik mereka
dengan adab-adab yang terpuji baik ucapan maupun tindakan.
--> MENANAMKAN AQIDAH ISLAM
Pendidikan aqidah merupakan pendidikan dasar yang pertama yang harus di
tanamkan orang tua kepada anaknya, karena ia merupakan landasan
kepribadian sang anak sekaligus menjadi pandangan hidupnya.
Ex:
Mengajarkan kepada Anak tentang sifat-sifat Allah, dan hanya Dialah
satu-satunya tempat meminta,konsep Qadha dan qadar,rezeki,ajal,tawakkal.
Menanamkan kecintaan kepada Rasulullah saw dan sunnahnya,juga kecintaan kepada al-qur’an dan memotivasi untuk menghafalnya.
Menceritakan siroh dan kisah para Nabi dan Rasul dalam membela dan
memperjuangkan aqidah yang haq.Misalnya: Kisah Nabi Ibrahim, Nabi Musa,
Nabi Yusuf, Nabi Isa, Rasulullah SAW termasuk para sahabat r.a seperti
Bilal bin Rabah, Keluarga Yassir, Mush’ab bin Umair,dll.
Menjauhkan mereka dari media baik cetak maupun elektronik yang berisi
kemusyrikan dan hal-hal yang bertentangan dengan syariah seperti yang
berisi kekerasan dan pornografi sembari menjelaskan kesalahan dan
kebathilan tayangan tersebut.
Menuturkan kepadanya
riwayat-riwayat yang shahih mengenai gambaran surga dengan segala
kenikmatannya dan neraka dengan berbagai azabnya yang pedih.
Dengan demikian sejak dini anak telah memiliki gambaran yang benar
tentang perkara-perkara gaib sehingga dapat memberikan pengaruh dalam
kehidupannya.
-->MENGAJARKAN POKOK-POKOK SYARIAH
Diantaranya mengajarkan sholat,adzan,sholat berjama’ah,puasa,hukum-hukum
seputar pergaulan,thaharah, tata cara berpakaian,memberikan makanan dan
minuman yang halal.
Di samping itu juga mengajari pentingnya
jihad fiy sabilillah,membiasakan amar makruf dan nahi munkar, dan
membudayakan akhlakul karimah seperti menjauhi sifat-sifat
tercela,berbuat baik kepada kedua orang tua,menghormati yang lebih
tua,menjaga adab meskipun sedang bermain,membudayakan adab-adab
makan,minum,berbicara maupun bermajelis,dsb.
-->KETELADANAN DARI KE-DUA ORANG TUANNYA
Adapun cara yang paling efektif dalam mendidik anak menjadi generasi
mujahid tangguh or menjadi pejuang Islam adalah Dengan keteladanan
dari orang tua.
Jika orang tua menunjukkan semangat berjuang dan
berkorban kepada anak-anaknya,yang bisa dilihat oleh si anak dalam
mendakwahkan Islam,maupun dalam perbincangan sehari-hari di keluarga,
maka dengan sendirinya telah menanamkan semangat juang kepada anak.
Ditambah dengan melibatkan anak dalam aktivitas dakwah,mensuasanakan rumah dengan aktivitas halaqoh,menghadiri tatsqif,dsb.
Biasakan anak berinteraksi dengan para aktivis dakwah yang mukhlis
dengan membiasakan mengajak mereka ditiap-tiap tatsqif yang diikuti.
Karena inshaa Allah, interkasi dengan orang-orang yang mencintai dakwah
dan jihad di jalan Allah ditambah dengan keteladanan dan pembiasaan
dari orang tua merupakan sarana yang sangat efektif untuk menanamkan
semangat juang dan jiwa rela berkorban demi kemulian Islam dari pada
sang anak.
-->PENUTUP
Mungkin yang terbayang dalam
benak kita (baik yang masih gadis, calon ibu, maupun bagi yang sudah
menjadi ummu), bahwa betapa beratnya tugas seorang ibu.
Namun,
bersusah payah saat mereka masih usia dini adalah lebih mudah ketimbang
mengarahkan mereka ketika telah beranjak dewasa.Bukankah demikian???
Sebelum mengakhir tulisan singkat ini, sepotong do’a terucap: Semogai
Allah merahmati kita dengan anak-anak yang shalih dan shalihah calon
pejuang Islam dengan tetap menapaki jalan dakwah sebagimana dalam
firman-Nya:
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk
manusia, menyeruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar,dan
beriman kepada Allah.” (QS.Ali Imran :110).
Wallahu a’lam
Referensi:
1.Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia.”Selamatkan Generasi dari Kapitalisasi dan Liberalisasi pendidikan”
2.Muh.Ishak dan Alik Munfaidah.”Mendamba Anak Shaleh”
3.Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia.2014.”Cermin Wanita Shalihah” Edisi 6.
4.Media politik dan dakwah “al- wa’ie” Maret 201

Tidak ada komentar:
Posting Komentar