Senin, 13 Februari 2017

Bicara Keluarga...

 Keluarga...
Keluarga merupakan salah satu benteng pertahanan dari sebuah bangsa (umat), apabila benteng pertahanannya ini kuat dan kokoh, maka bangsapun akan kokoh, tetapi jika benteng pertahananya lemah lemah, niscaya akan lemah pula. Keluarga yang penuh suasana sakinah, mawadah, dan rahmah persama pasangan yang sholeh dan sholehah. Juga anak – anak yang berbakti serta cerdas tidak dapat terwujud tanpa ajaran, aturan dan tuntunan Allah. Karena hanya keluarga muslimlah yang benar – benar bersandar pada ajaran islam, Al – Qur’an, dan assunah yang akan mampu bertahan ditengah gempuran zaman yang serba menjerumuskan seperti saat ini.

Sesungguhnya Islam telah menggariskan bahwa tujuan pernikahan adalah untuk melestarikan jenis manusia. Selain itu pernikahan juga untuk ziyadatul-‘amal (meningkatkan aktivitas) bukan hanya sekadar menyempurnakan dinul Islam. Landasan berpikir ini seharusnya menjadi pijakan pertama dalam membangun keluarga Muslim. Dari sini akan terwujud sinergi antara peran suami sebagai qawwam (pemimpin keluarga) dan istri sebagai umm wa rabbatul-bayt (ibu dan pengatur rumah tangga).
Keluarga merupakan salah satu benteng pertahanan dari sebuah bangsa (umat), apabila benteng pertahanannya ini kuat dan kokoh, maka bangsapun akan kokoh, tetapi jika benteng pertahananya lemah lemah, niscaya akan lemah pula. Keluarga yang penuh suasana sakinah, mawadah, dan rahmah persama pasangan yang sholeh dan sholehah. Juga anak – anak yang berbakti serta cerdas tidak dapat terwujud tanpa ajaran, aturan dan tuntunan Allah. Karena hanya keluarga muslimlah yang benar – benar bersandar pada ajaran islam, Al – Qur’an, dan assunah yang akan mampu bertahan ditengah gempuran zaman yang serba menjerumuskan seperti saat ini.
Kekuatan kepemimpinan seorang suami akan membawa corak keluarga yang ideologis. Ketangguhan peran istri akan mencetak keturunan yang berkualitas. Istri yang menyadari keutamaan perannya mendidik anak-anaknya tidak sebatas untuk kepentingan keluarga, namun juga untuk kepentingan umat. Dengan demikian ia telah menyatukan peran ibu dan peran politiknya pada dirinya. Dengan itu pula ia akan mampu menjadi ibu yang mencetak kader-kader politis yang tangguh dan siap diserahi urusan umat.
Suami bertanggung jawab untuk membina dan memastikan penyatuan peran istrinya. Dari pendidikan yang dilakukan oleh suami akan menghasilkan istri yang menyadari pentingnya penyatuan peran ibu sekaligus menjadi ibu yang berkualitas. Predikat ibu berkualitas akan didapatkan oleh seorang ibu jika memiliki kriteria: (i) memiliki akidah dan syakhshiyah islamiyah; (ii) memiliki kesadaran untuk mendidik anak sebagai aset politik dalam perjuangan umat; (iii) memiliki kesadaran politik Islam. Selanjutnya pengasuhan dan pendidikan yang dilakukan oleh ibu yang berkualitas akan menghasilkan generasi yang berkualitas dan politis.
Dari itulah tidak heran kalau akhirnya banyak keluarga muslim goyah, banyak terjadi keruntuhan moral pada anak dan remaja. Hal inilah yang menjadi catatan buruk umat islam, sekaligus ancaman serius bagi nasib islam kedepannya. Hal demikian terjadi karena beberapa faktor permasalahan: 
  • Faktor dalam. Keluarga yang lemah dari segi aqidah, sehingga tidak mempunyai visi dan misi untuk kehidupan yang lebih jelas. Hal ini karena lemahnya pemahaman terhadap hokum – hokum utama didalamnya.
  • Faktor luar, yaitu konspirasi dari pihak asing untuk menghancurkan umat islam dan keluarga muslim dengan berbagai serangan dan aturan pemikiran, juga budaya sekuler yang rusak dan merusakkan, terutama liberalism yang mana menawarkan berbagai macam kebebasan mulai, dari kebebasan individu, berperilaku, beragama, maupun dalam hal pemilikan harta.
Liberalisme berupaya dengan tujuannnya untuk menyingkirkan peran agama dari system kehiidupan manusia dan menjadikan manusia bebas secara mutlak untuk menentukan arah serta cara hidupnya antara laki laki dan perempuan dalam berkeluarga. Dengan serangan inilah tujuannya agar umat islam merasa malu dan juga enggan dengan hokum islam itu sendiri. Sebagai alternatifnya, umat islam harus menuntut penerapann bermacam macam aturan perundangan yang menjamin kebebasan individu meski meraka tahu kalau undang-undang tersebut sangat bertentangan dengan syariat islam.
Konspirasi penghancuran ini diemban karena islam dan umatnya mempunyai pancaman terhadap hegemoni peradaban barat. Juga umat islam memiliki potensi sumber tenaga dan potensi ideology yang jika semua itu disatu padukan maka akan membumihanguskan system kapitalisme global barat.
Keluarga masih berfungsi sebagai benteng pertahanan terakhir, yang mana menjaga hokum islam yang berkaitan dengan kekeluargaan dan perorangan. Selain hokum islam, aspek yang berkaitan yaitu aspek social dan kenegaraan berhasil mereka hancurkan. 
“Al Ummu madrosatun idzha a’dadtaha a’dadta sya’ban thoyyibal a’roq” ibu adalah sekolah. Apabiala engkau mempersiapkannya dengan baik, berarti engkau telah mempersiapkan dengan baik, berarti engkau telah mempersiapkan bangsa yang memiliki dasar – dasar yang baik. Wallahu ‘alam. 
Tim di Muslimah Voice
Nurul sa'adah
Fb:Nurul Sa'adah 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar