Akibat penerapan sistem kapitalisme neoliberal, generasi makin sekular (jauh dari agama), makin materialistik (hanya mengejar harta), makin hedonistik (hanya mengejar kesenangan duniawi) dan makin individualistik (hanya mementingkan diri sendiri). Akibatnya, ikatan antarindividu makin getas (rapuh), bahkan ikatan keluarga makin lemah; sementara risiko perceraian meningkat. Alhasil, penerapan sistem kapitalisme neoliberal mengakibatkan beban hidup makin berat dirasakan oleh rakyat secara individual. Kapitalisme juga menihilkan peran agama. Akibatnya, penguatan kemampuan seseorang menanggung beban diserahkan kepada orang itu sendiri. Negara tak peduli dengan hal itu. Negara tak peduli dengan keimanan dan ketakwaan rakyatnya.nya.
Banyak kasus yang terjadi di negeri ini,menyerang generasi bangsa.,dari yang pacaran hingga gaul bebas smpai aborsi jadi bahan konsumsi mata negeri ini.Setiap orang tua khwatir anak genrasi mereka kelak bakal jadi apa dan bagaimana mereka mampu menjaganya sedangkan kondsi semakin hari menarik mereka ke lembah kehancuran yang sam. Yang jadi pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana ini bisa terjadi? Kemudian siapa yang harus bertanggungjawab atas kejadian ini? Serta bagaimanakah solusi yang tepat agar hal yang seperti ini tidak terulang lagi?
Wabah pacaran yang telah nyata-nyata
menyebar di tengah-tengah umat sudah menunjukkan tanda-tanda bahwa umat
telah berada pada kran liberalisasi pergaulan. Dan parahnya, hal inipun
seolah dianggap sebagai sesuatu yang biasa saja bagi umat. Jika ada anak
laki-laki dan perempuan bukan mahramnya berboncengan naik motor dijaman
sekarang telah menjadi sesuatu yang lumrah dan wajar terjadi. Padahal,
hal ini adalah perbuatan dosa.
Akibat penerapan sistem kapitalisme
neoliberal, generasi makin sekular (jauh dari agama), makin
materialistik (hanya mengejar harta), makin hedonistik (hanya mengejar
kesenangan duniawi) dan makin individualistik (hanya mementingkan diri
sendiri). Akibatnya, ikatan antarindividu makin getas (rapuh), bahkan
ikatan keluarga makin lemah; sementara risiko perceraian meningkat.
Alhasil, penerapan sistem kapitalisme neoliberal mengakibatkan beban
hidup makin berat dirasakan oleh rakyat secara individual. Kapitalisme
juga menihilkan peran agama. Akibatnya, penguatan kemampuan seseorang
menanggung beban diserahkan kepada orang itu sendiri. Negara tak peduli
dengan hal itu. Negara tak peduli dengan keimanan dan ketakwaan
rakyatnya.
Tanggung Jawab Siapa?
Rasulullah SAW bersabda, “Seorang
pemimpin (penguasa) adalah pemelihara dan dia akan dimintai
pertanggungjawaban atas pemeliharaan urusan mereka.” (HR. Al Bukhari)
Memelihara agama, akal, jiwa dan harta
adalah tanggungjawab seorang pemimpin. Oleh karena itu, jika ada sebuah
peristiwa seorang remaja bunuh diri maka, orang yang paling
bertanggungjawab atasnya adalah pemimpin mereka. Kenapa demikian? Karena
pemimpin mereka tidak mampu menjaga akal serta keimanan dari rakyatnya.
Bagaimana ini bisa terjadi, sebab pemimpin atas mereka menerapkan
demokrasi yang berasaskan sekulerisme di tengah-tengah kehidupan umat.
Dimana kita ketahui bersama bahwa sekulerisme ini meniscayakan adanya
agama untuk mengatur kehidupan sosial masyarakat. Sehingga ketika sistem
sekuler diterapkan maka akan menumbuhkan paham-paham turunan
berikutnya, diantaranya adalah paham liberal (kebebasan) dalam kehidupan
bersosial. Yang didalamnya ada sebuah ajaran aktivitas yang jelas telah
dilarang di dalam islam, yakni aktivitas pacaran. Dari aktivitas
inilah, peristiwa itu bermula. Andai penguasa menerapkan sebuah aturan
yang melarang aktivitas pacaran dan pada saat yang sama para
pemuda-pemudi islam di gembleng dengan ajaran agama dengan benar serta
dibuatkan aturan yang bisa mengatur interaksi antar lawan jenis maka,
hal ini tak akan pernah terjadi. Disitulah, peran pemimpin dimana mereka
bukan hanya sekedar jualan nama saja saat pemilu tiba tapi mereka juga
harus memperhatikan setiap keadaan yang dipimpinnya. Memelihara agama,
akal, jiwa dan harta orang-orang yang dipimpinnya.
Para ulama, telah berulang kali
menyampaikan di mimbar-mimbar dakwah bagaimana seharusnya menjadi
sebagai seorang muslim yang kuat secara keimanan dan ketaqwaan. Namun,
apalah daya paham sekulerisme yang bercokol di negeri ini telah membuat
liberalisme menjadi semakin menggerogoti keislaman para pemuda-pemudi
Islam. Di usia yang masih remaja mereka bukannya memperdalam keilmuan
dan keislaman. Tetapi, mereka asyik menghabiskan masa mudanya dengan
kegiatan-kegiatan yang sia-sia atau bahkan bisa menjerumuskan mereka ke
lubang dosa. Sehingga disinilah peran para ulama yang sesungguhnya,
mereka harus berada di garda terdepan dalam menghilangkan paham sekuler
dari benak umat sehingga liberalism akan hilang bersamanya. Serta para
ulama juga harus senantiasa melakukan kontrol dan koreksi terhadap para
penguasa. Agar para penguasa ini tidak membuat kebijakan yang
membahayakan aqidah dan keimanan umat. Para ulama harus mendorong para
penguasa untuk menerapkan syariah islam secara kaffah, totalitas dalam
seluruh kehidupan. Supaya agama, akal, jiwa, harta dan kehormatan kaum
muslimin bisa terjaga. Dan jika ini telah dilakukan maka, ulama’ akan
benar-benar menjadi pewaris nabi yang sesungguhnya. Yang senantiasa
melakukan amar ma’ruf nahi munkar.
Khatimah
Wahai kaum muslimin, sesungguhnya,
kejadian semacam ini sudah sangat sering terjadi. Terus dan terus saja
berulang. Sungguh, hal ini terjadi karena di terapkannya sistem sekuler
di negeri ini hingga menurunkan paham-paham turunannya. Tak terkecuali
paham liberal. Sehingga, telah nyata bahwa Indonesia kita benar-benar
terancam paham liberalisme pergaulan. Paham liberalisme telah
benar-benar mengancam kita, tak terkecuali juga kapitalisme,
imperialisme dan komunisme gaya baru. Sudah saatnya, kita sadar dan
kembali kepada islam sebagai solusi tuntas atas segala problematika yang
terjadi. Menerapkan Syariah islam secara kaffah dalam bingkai Khilafah
Ala Minhaj Nubuwwah akan mencegah tindakan ini terjadi sedini mungkin.
Sebab Khalifah adalah perisai, ia akan senantiasa melindungi umat dari
bahaya apapun yang mengancamnya. Wallahu’alam bish shawab.
Tim di Muslimah Voice
Nurul Sa'adah
Fb;Nurul Sa'adah
Tim di Muslimah Voice
Nurul Sa'adah
Fb;Nurul Sa'adah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar