Rabu, 15 Februari 2017

Kado untuk pendidikanku






KADO UNTUK PENDIDIKANKU
Negeri ini sudah merdeka 71 tahun lamanya.Kita hidup di jaman yang sudah dikatakan merdeka.Hiruk piruk kehidupan telah kita jalan bersama tanpa perubahan yang nyata,bahkan  ‘Zamrud Khatulistiwa’ pun sudah menapaki masa.Di Negeri ini dunia pendidikan pun  diwarnai fenomena yang tak kalah meriahnya dengan aksi mahasiswa di berbagai daerah beberapa waktu lalu menanggapi kenaikan Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan pemberlakuan Sumbangan Pengembangan Institusi (SPI). Sejak ditetapkannya UU Pendidikan Tinggi (PT) 2012 pembiayaan PT adalah tanggung jawab masyarakat, industri, dan negara. Pada APBN 2015 Negara hanya memberi sedikit sumbangan untuk pembiayaan PT yaitu 4,1 Triliun. Kekurangan anggaran dalam proses berjalannya pendidikan menjadi tanggung jawab Perguruan Tinggi. Perguruan Tinggi diminta kreatif sebagai badan usaha untuk menambah kebutuhan biaya pendidikan sendiri. Biaya kuliah di perguruan tinggi terus mengalami kenaikan. Bahkan yang terbaru, melalui kebijakan efisiensi anggaran belanja kementerian. Sebelumnya, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (AP¬BN) 2016 Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi sebesar Rp 40,6 triliun. Berdasarkan Inpres Nomor 4 Tahun 2016 dan Surat Menkeu Nomor S-377/MK.02/2016, Kemenristekdikti perlu melakukan penghematan sebesar Rp 1,9 triliun. Inilah yang kemudian berimbas pada mahalnya biaya kuliah yang harus ditanggung oleh mahasiswa.(http://www.visimuslim.net/…)
Banyak mahasiswa yang memutuskan untuk tidak melanjutkan kejenjang kuliah bahkan terpaksa  berhenti  karena  tidak mampu menangung besarnya biaya perkulihan yang harus mereka bayar,bangku kuliah sangatlah mahal seolah-olah hanya diperuntukan untuk  kaum berada.Smapai ada celotehan orang miskin dilarang sekolah Beasiswa pun kadang tak tepat sasaran terlalu bertele-tele diperjuangkan.Katanya peduli pada mahasiswa,wong anggarannya ada tak perlu potong memotong dengan dalih administrasi.Seperti kasus sebanyak 20 orang mahasiswa (Unila) terpaksa menunda impiannya meraih titel sarjana.Mereka memilih mundur karena tak sanggup membayar uang kuliah tunggal (UKT). Bahkan, ada beberapa di antaranya yang sudah sempat mengenyam bangku kuliah.Satu di antaranya adalah Listiani. Mahasiswi semester tiga prodi Fisika FMIPA Unila  itu membenarkan dirinya memilih untuk berhenti kuliah.Menurut dia, meski berat, mundur adalah keputusan yang  tepat (TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG ).
Jika kita melirik kondisi  kualitas  pendidikan di Negeri ini sangatlah memprihatinkan.Di buktikan dengan data UNESCO(2000) tentang peringkat Indek Pengembangan Manusia(Human Development Index),yaitu komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan,kesehatan,dan penghasilan per kepala yang menunjukan,bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia semakin menurun.Diantara 174 negara di dunia,Indonesia menempati urutan ke 102(1996),ke-99(1997),ke-105(1998),dan ke-109(1999).Ini hanya segelintir fakta bahwa kualita pendidikan di Indonesia sangatlah memprihatinkan.Begitu pun keadaan guru saat ini,amatlah sangat memprihatinkan.Kebanyakan guru belum memikili profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya sebagaimana disebut dalam pasal 39 UU No.20/2003 yaitu merencanakan pembelajaran,melaksanakan pembelajaran,menilai hasil pembelajaran,melakukan pembimbingan,melakukan pelatihan,melakukan penelitian,dan melakukan pengabdian masyrakat.Amatlah jauh dari harapan yang di cantumkan dalam pasal tersebut.Tak ada perubahan yang nyata di dunia pendidikan kini baik infut dan outfut dari pendidkan kini.Inikah hasil pendidkan yang kita harapkan?

Apa yang Terjadi Pada  Pendidikan di Indonesia
Sebagaimana kita ketahui, sejak tahun 1995 Indonesia resmi menjadi anggota WTO.Sobat Muslimah tau kan,WTO itu kalo bahasa kerennya World Trade Organization dengan diratifikasinya semua perjanjian-perjanjian perdagangan multilateral. Nah negara-negara anggota WTO diharuskan menandatangani General Agreement on Trade in Services (GATS) yang mengatur liberalisasi perdagangan 12 sektor jasa, waw keren nggak 12 setor neng.Antara lain layanan kesehatan, teknologi informasi dan komunikasi, jasa akuntansi, pendidikan tinggi, serta jasa-jasa lainnya. Masuknya sektor pendidikan dalam program jual-beli ala kapitalis kalo lebih kerennyanya  imperialisme ini bukan tanpa tujuan. Tujuannya adalah mendapat untung besar dari penjualan jasa pendidikan. Wiih,jasa dibidang pendidikan saja dijual lho sobat,apalagi manusiannya ya.Salah satu bukti keuntungan adanya liberalisasi perdagangan jasa khususnya di sektor pendidikan, yakni profit yang dihasilkan oleh AS pada tahun 2000 pasca GATS di tanda tangani mencapai $14 milyar pada tahun kurun 2000-2001 atau Rp 126 trilyun (kurs rupiah per dolarnya Rp 9500). Di Inggris pendapatan dari ekspor jasa pendidikan mencapai sekitar 4 persen dari penerimaan sektor jasa negaranya. Sementara, ekspor jasa pendidikan dan pelatihan Australia telah menghasilkan AUS $ 1,2 milyar pada 1993.Paham nggak dengan buktinya,intinya itu pendidikan kita udah dileberalisasikan jadi bahan perdangangan dunia.Miris nggak ,kita kuliah di negeri sendiri eh malah tuannya si bule-bule ,eits ini bukan bule yang sering kita panggil ye,ini bule impor euy.Sadis nggak,bule di negeri saja nggak dilirik jadi nyonya di negeri sendiri.Pusing ?Nikmati saja,perjuangan belum kelar...hehe cekidot...
Liberalisasi pendidikan akan berimplikasi pada pengaturan mengikuti mekanisme pasar. Liberalisasi pendidikan mengubah wajah perguruan tinggi dari lembaga pemerintah yang menyediakan pelayanan publik yang berorientasi pada peningkatan ilmu dan pendidikan rakyat menjadi perusahaan yang berorientasi pada keuntungan bisnis. Intervensi dalam pengelolaan Pendidikan Tinggi telah memunculkan konsep penataan baru dalam PT yaitu Kurikulum Berbasis Ekonomi (KBE). Tak heran bila kini dirasakan dampaknya biaya kuliah semakin tinggi, orientasi riset dan teknologi cenderung kepada bisnis. Kurikulum yang disusun sangat berorientasi pada permintaan pasar, mengakibatkan struktur kurikulum dengan mudah diubah menjadi lebih ‘bersahabat’ dengan kepentingan pasar. Buka tutup jurusan pun sudah umum dijumpai. Semangat otonomi yang ada dalam UU PT akhirnya melahirkan intelektual yang gemar mengerjakan proyek, tampil sebagai selebriti akademik, namun melupakan produksi pengetahuan di kampusnya. Wajar jika kita lihat Intelektul kian pragmatis,study oriented,hedonis,bahkan masuk organisasi kampus saja geraknya perlu di panasi dulu,itu pun jika ada pelumasnya.Ngono neng,mahasisiwi kekinian katanya yang  jauh dari sifat kritis dan idealis.Idealisnya bisa di kongkalikong jika ada mau dan posisinya terancam.
Tidak sedikit yang terkecoh dengan gagasan tata kelola yang liberalistik tersebut. Yang demikian karena gagasan ini dipoles dengan prinsip-prinsip yang dipandang elegan. Seperti efisiens, efektif, anti korupsi, birokrasi sederhana, transparansi, dan gagasan-gagasan serupa dari prinsip good governance. Yang bila diteliti secara seksama prinsip-prinsip tersebut hanyalah untung melanggengkan liberalisasi layanan publik dalam hal ini pendidikan tinggi dan tata kelolanya. Dimana fungsi pemerintah dikebiri sebatas fasilitator dan regulator saja. Bukan hanya itu, bukan satu dua orang yang berpendapat bahwa mahalnya pendidikan tinggi (baca : liberalisasi) tidak menjadi masalah yang penting “kualitasnya”. Asalkan “kualitas” yang ditawarkan sesuai dengan besarannya bayaran itu tidak menjadi masalah. Ini adalah logika dari benak-benak yang telah teracuni ide individualiastik, yang menyalahi ketentuan Islam. Lebih dari pada itu semua, tata kelola pendidikan tinggi yang baik tidak akan pernah terwujud selama komersialisasi menjadi jiwa tata kelola. Bahkan inilah (liberalisasi, komersialisasi) yang menjadi sumber petaka pendidikan tinggi saat ini. Mulai dari biaya pendidikan tinggi sangat mahal, hingga disorientasi visi dan misi pendidikan tinggi. Jelas ini konsep tata kelola pendidikan tinggi yang menyalahi ketentuan Islam, disamping amat sangat membahayakan masa depan generasi dan bangsa.
Negara Kapitalis Melepaskan Tanggung Jawab pada Rakyatnya
Liberalisasi Pendidikan tentu tak lepas dari Sistem Kapitalisme yang saat ini diterapkan. Selama negeri ini masih menerapkan sitem kapitalisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, maka Negara tidak akan pernah serius melayani kebutuhan rakyatnya termasuk pemenuhan kebutuhan akan pendidikan tinggi yang bermutu dan terjangkau bagi seluruh warga negaranya. Yang ada sebaliknya, Negara manapun yang mnerapkan system kapitalisme akan menitikberatkan pencarian keuntungan yang sebesar-besarnya sekalipun harus menelantarkan rakyatnya. Sistem Kapitalisme akan melegalisasikan seluruh aktivitas bernuansa perdagangan yang menghasilkan keuntungan materi yang sebesar-besarnya, tidak terkecuali pendidikan tinggi sarat dengan liberalisasi dan kapitalisasi. UU PT mencerminkan pelepasan tanggung jawab negara dalam hal pembiayaan perguruan tinggi. Beberapa pasal tersebut secara implisit menyatakan bahwa ‘pemerintah mengatur teknis pengelolaan pendidikan tinggi, tetapi menyerahkan dana pendidikan kepada mahasiswa, masyarakat, atau dunia usaha. Dalam konteks pembebanan tanggung jawab kepada mahasiswa, UU Pendidikan Tinggi berpotensi menutup akses mereka yang tidak mampu untuk masuk ke perguruan tinggi.’Inilah watak asli Kapitalisme. Pendidikan tinggi menjelma menjadi komoditas yang diperjual belikan di masyarakat dan mahasiswa diposisikan sebagai customer.
Mahasiswa terjerat dari mahalnya biaya kuliah,hingga tersibukkan hanya memikirkan biaya kuliah dan orintasi cepat lulus dan memahami lagi peran mereka sebagai tombak perubahan negeri ini. Ini tidak telepas dari intervensi asing terhadap negara kita dalam pengelolaan pendidikan tinggi yang sejatinya bentuk penjajahan gaya baru (Neo-Imperialisme). Seluruh intervensi kebijakan dalam mengelola pendidikan yang dilakukan oleh negara ini tak lain karena lemahnya visi Negara. Visi Negara yang lemah dalam menentukan nasibnya sendiri menjadi lahan bagi pihak lain untuk mengintervensi sektor strategis yang ada. Sektor pendidikan merupakan sektor strategis Negara selain sektor ekonomi dan politik. Selama Negara belum memiliki visi yang kuat dan mandiri dalam menentukan arah pandangnya selama itu pula kebijakan yang ada akan terus terikat dengan kepentingan dari pihak lain yang memanfaatkannya (baca : penjajahan). Realitas intervensi asing terhadap sistem pendidikan di Indonesia tidak lain merupakan upaya penyempurnaan penjajahan mereka di negeri ini. Sektor ekonomi, pendidikan, dan politik merupakan sektor vital bagi suatu negara. Apabila ketiga sektor itu telah dikuasai maka secara de facto sebenarnya negara tersebut telah terjajah dengan memasuki dunia pendidikan saat ini.
Masih ada Harapan
Ilmu dalam pandangan Islam adalah suatu hal yang sangat penting,bahkan termasuk kebutuhan primer.Karena selain sebagai agama, Islam juga sebagai pandangan hidup manusia sebagai pengatur seluruh aspek kehidupan umat manusia .Penyelesaian problem pendidikan yang mendasar tentu harus dilakukan secara fundamental. Itu hanya dapat diwujudkan dengan mengubah paradigma negara dengan merombak sistemnya, sehingga seluruh rakyat akan dapat menikmati pendidikan di Indonesia dengan murah, bermutu tinggi, dan islami sebagai bagian dari public service semata yang diberikan oleh negara kepada rakyatnya. Selama sistem-sistem yang berkaitan dengan pendidikan, seperti sistem ekonomi dan politik masih bersifat kapitalistik dan tidak sesuai dengan Islam, maka mustahil akan mewujudkan pendidikan yang bebas biaya dan berkualitas. Sistem yang menetapkan pendidikan sebagai kebutuhan primer public secara gratis dijamin Negara dan berkualitas dengan sinergi sistem politik dan ekonominya adalah sistem kenegaraan Islam, yaitu Khilafah Islam.

Perisai Hakiki untuk pendidikanku
”Imam (Khalifah) yang menjadi pemimpin manusia, adalah (laksana) penggembala. Dan hanya dialah yang bertanggungjawab terhadap (urusan) rakyatnya.” (HR Al- Bukhari). Sumber Pembiayaan Pendidikan dalam Islam berasal dari Departemen Keuangan Negara, yaitu Baitul Mal. Dan sumber-sumber keuangan Baitul Mal antara lain: Pertama, Harta milik negara yang berupa tanah, bangunan, sarana umum dan pendapatannya serta Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Kedua, pengelolaan negara atas kepemilikan umum seperti Sumber Daya Alam yang menjadi milik umum; barang tambang: minyak bumi, emas, perak, besi, batu bara dan lain-lain. Ketiga, Anfal, Ghanimah, Fai, Khumus Kharaj, Jizyah dan Usyur. Keempat, Infak, Shodaqoh, Wakaf, zakat dan harta yang tidak ada ahli warisnya. Kelima, Penyitaan harta para koruptor serta harta yang diperoleh oleh pegawai negara dari tindakan curang yang lain. Keenam, Pajak. Ini merupakan pemasukan Negara dan dipungut pada saat Baitul Mal kekurangan dana dan hanya diwajibkan kepada warga negara yang kaya.
Sebenarnya Indonesia bisa menyelenggarakan pendidikan bebas biaya dan berkualitas, karena sumber- daya alam Indonesia yang kaya raya. Dari hasil tambang emas saja rata-rata produksi pertahun 126,60 ton. Jika harga satu gram emas Rp 200.000, maka pendapatan Negara dari emas saja sudah 253,2 trilyun pertahun. Menurut S. Damanhuri dari sektor kelautan saja dihasilkan US$ 82 milyar. Jika 1 US$ = Rp.10.000, maka hasilnya Rp 820 trilyun. Namun sayang, akibat tata kelola yang salah ala Sistem Kapitalisme ,semua kekayaan itu ‘digondol’ asing. Saatnya beralih pada pengaturan Islam (Khilafah). Mencetak missal SDM berkepribadian islami dan berkualitas unggul yang memiliki daya saing internasional yang akan mampu mengangkat bangsa dan negara ini dari berbagai keterpurukan sehingga benar-benar merdeka.
Masih ada Harapan untuk Generasi Abad -21

“Dalam HR. Ibnu Majah, Rasulullah SAW bersabda menuntut ilmu wajib atas setiap muslim. Hadis ini kemudian menjadi pendorong bagi umat muslim pada masa kekhilafahan untuk mencari ilmu. Pemahaman akidah serta tsaqofah islam yang tinggi menjadikannya intelektual yang bertakwa dan  memposisikan ridho Allah SWT sebagai orientasi tertinggi dalam belajar. Inilah kunci kesuksesannya yang pertama.kunci kesuksesan yang kedua yaitu peran Negara Khilafah yang besar dalam menyediakan kondisi yang kondusif dengan memberikan sarana dan prasarana pendidikan bermutu hingga memungkinkan ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat. Negara juga menjamin pendidikan gratis bagi seluruh warganya. Kombinasi dari dua kunci inilah yang secara historis menjadikan pendidikan tinggi Islam sebagai pendidikan terbaik di dunia.


“Indonesia sesungguhnya berpotensi untuk mewujudkan kombinasi dua kunci kesuksesan  tersebut. Karena, Indonesia punya banyak pemuda yang cerdas dan berprestasi. Ditambah pula kekayaan alam Indonesia yang melimpah ruah merupakan potensi sumber pembiayaan pendidikan tinggi berkualitas. Pendidkan ideal akan terwuud jika terlebih dahulu harus menghilangkan sistem  yang telah membiarkan asing menjajah umat muslim. Kita pun kemudian harus berjuang menegakkan Negara yang mau menerapkan Islam kaafah yakni Daulah Khilafah abad 21. Daulah akan mengadopsi sistem politik-ekonomi Islam yang mengatur pengelolaan SDA sepenuhnya oleh Negara untuk pembiayaan pendidikan tinggi  berkualitas bukan diserahkan kepada swasta. 

Tim di Muslimah Voice
Fb;Nurul Sa'adah
Blogger:www.ibugenerasipenakluk.com
Email:sadah1453@gmail.com

Senin, 13 Februari 2017

Generasiku Sayang,Generasiku Malang

Selamatkan Generasi dari Frustasi
Akibat penerapan sistem kapitalisme neoliberal, generasi makin sekular (jauh dari agama), makin materialistik (hanya mengejar harta), makin hedonistik (hanya mengejar kesenangan duniawi) dan makin individualistik (hanya mementingkan diri sendiri). Akibatnya, ikatan antarindividu makin getas (rapuh), bahkan ikatan keluarga makin lemah; sementara risiko perceraian meningkat. Alhasil, penerapan sistem kapitalisme neoliberal mengakibatkan beban hidup makin berat dirasakan oleh rakyat secara individual. Kapitalisme juga menihilkan peran agama. Akibatnya, penguatan kemampuan seseorang menanggung beban diserahkan kepada orang itu sendiri. Negara tak peduli dengan hal itu. Negara tak peduli dengan keimanan dan ketakwaan rakyatnya.nya.

Banyak kasus yang terjadi di negeri ini,menyerang generasi bangsa.,dari yang pacaran  hingga gaul bebas  smpai aborsi jadi bahan konsumsi mata negeri ini.Setiap orang tua khwatir anak genrasi mereka kelak bakal jadi apa dan bagaimana mereka mampu menjaganya sedangkan kondsi semakin hari menarik mereka ke lembah kehancuran yang sam. Yang jadi pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana ini bisa terjadi? Kemudian siapa yang harus bertanggungjawab atas kejadian ini? Serta bagaimanakah solusi yang tepat agar hal yang seperti ini tidak terulang lagi?
Wabah pacaran yang telah nyata-nyata menyebar di tengah-tengah umat sudah menunjukkan tanda-tanda bahwa umat telah berada pada kran liberalisasi pergaulan. Dan parahnya, hal inipun seolah dianggap sebagai sesuatu yang biasa saja bagi umat. Jika ada anak laki-laki dan perempuan bukan mahramnya berboncengan naik motor dijaman sekarang telah menjadi sesuatu yang lumrah dan wajar terjadi. Padahal, hal ini adalah perbuatan dosa.
Akibat penerapan sistem kapitalisme neoliberal, generasi makin sekular (jauh dari agama), makin materialistik (hanya mengejar harta), makin hedonistik (hanya mengejar kesenangan duniawi) dan makin individualistik (hanya mementingkan diri sendiri). Akibatnya, ikatan antarindividu makin getas (rapuh), bahkan ikatan keluarga makin lemah; sementara risiko perceraian meningkat. Alhasil, penerapan sistem kapitalisme neoliberal mengakibatkan beban hidup makin berat dirasakan oleh rakyat secara individual. Kapitalisme juga menihilkan peran agama. Akibatnya, penguatan kemampuan seseorang menanggung beban diserahkan kepada orang itu sendiri. Negara tak peduli dengan hal itu. Negara tak peduli dengan keimanan dan ketakwaan rakyatnya.
Tanggung Jawab Siapa?
Rasulullah SAW bersabda, “Seorang pemimpin (penguasa) adalah pemelihara dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas pemeliharaan urusan mereka.” (HR. Al Bukhari)
Memelihara agama, akal, jiwa dan harta adalah tanggungjawab seorang pemimpin. Oleh karena itu, jika ada sebuah peristiwa seorang remaja bunuh diri maka, orang yang paling bertanggungjawab atasnya adalah pemimpin mereka. Kenapa demikian? Karena pemimpin mereka tidak mampu menjaga akal serta keimanan dari rakyatnya. Bagaimana ini bisa terjadi, sebab pemimpin atas mereka menerapkan demokrasi yang berasaskan sekulerisme di tengah-tengah kehidupan umat. Dimana kita ketahui bersama bahwa sekulerisme ini meniscayakan adanya agama untuk mengatur kehidupan sosial masyarakat. Sehingga ketika sistem sekuler diterapkan maka akan menumbuhkan paham-paham turunan berikutnya, diantaranya adalah paham liberal (kebebasan) dalam kehidupan bersosial. Yang didalamnya ada sebuah ajaran aktivitas yang jelas telah dilarang di dalam islam, yakni aktivitas pacaran. Dari aktivitas inilah, peristiwa itu bermula. Andai penguasa menerapkan sebuah aturan yang melarang aktivitas pacaran dan pada saat yang sama para pemuda-pemudi islam di gembleng dengan ajaran agama dengan benar serta dibuatkan aturan yang bisa mengatur interaksi antar lawan jenis maka, hal ini tak akan pernah terjadi. Disitulah, peran pemimpin dimana mereka bukan hanya sekedar jualan nama saja saat pemilu tiba tapi mereka juga harus memperhatikan setiap keadaan yang dipimpinnya. Memelihara agama, akal, jiwa dan harta orang-orang yang dipimpinnya.
Para ulama, telah berulang kali menyampaikan di mimbar-mimbar dakwah bagaimana seharusnya menjadi sebagai seorang muslim yang kuat secara keimanan dan ketaqwaan. Namun, apalah daya paham sekulerisme yang bercokol di negeri ini telah membuat liberalisme menjadi semakin menggerogoti keislaman para pemuda-pemudi Islam. Di usia yang masih remaja mereka bukannya memperdalam keilmuan dan keislaman. Tetapi, mereka asyik menghabiskan masa mudanya dengan kegiatan-kegiatan yang sia-sia atau bahkan bisa menjerumuskan mereka ke lubang dosa. Sehingga disinilah peran para ulama yang sesungguhnya, mereka harus berada di garda terdepan dalam menghilangkan paham sekuler dari benak umat sehingga liberalism akan hilang bersamanya. Serta para ulama juga harus senantiasa melakukan kontrol dan koreksi terhadap para penguasa. Agar para penguasa ini tidak membuat kebijakan yang membahayakan aqidah dan keimanan umat. Para ulama harus mendorong para penguasa untuk menerapkan syariah islam secara kaffah, totalitas dalam seluruh kehidupan. Supaya agama, akal, jiwa, harta dan kehormatan kaum muslimin bisa terjaga. Dan jika ini telah dilakukan maka, ulama’ akan benar-benar menjadi pewaris nabi yang sesungguhnya. Yang senantiasa melakukan amar ma’ruf nahi munkar.
Khatimah
Wahai kaum muslimin, sesungguhnya, kejadian semacam ini sudah sangat sering terjadi. Terus dan terus saja berulang. Sungguh, hal ini terjadi karena di terapkannya sistem sekuler di negeri ini hingga menurunkan paham-paham turunannya. Tak terkecuali paham liberal. Sehingga, telah nyata bahwa Indonesia kita benar-benar terancam paham liberalisme pergaulan. Paham liberalisme telah benar-benar mengancam kita, tak terkecuali juga kapitalisme, imperialisme dan komunisme gaya baru. Sudah saatnya, kita sadar dan kembali kepada islam sebagai solusi tuntas atas segala problematika yang terjadi. Menerapkan Syariah islam secara kaffah dalam bingkai Khilafah Ala Minhaj Nubuwwah akan mencegah tindakan ini terjadi sedini mungkin. Sebab Khalifah adalah perisai, ia akan senantiasa melindungi umat dari bahaya apapun yang mengancamnya. Wallahu’alam bish shawab. 
Tim di Muslimah Voice
Nurul Sa'adah
Fb;Nurul Sa'adah
 

Bicara Keluarga...

 Keluarga...
Keluarga merupakan salah satu benteng pertahanan dari sebuah bangsa (umat), apabila benteng pertahanannya ini kuat dan kokoh, maka bangsapun akan kokoh, tetapi jika benteng pertahananya lemah lemah, niscaya akan lemah pula. Keluarga yang penuh suasana sakinah, mawadah, dan rahmah persama pasangan yang sholeh dan sholehah. Juga anak – anak yang berbakti serta cerdas tidak dapat terwujud tanpa ajaran, aturan dan tuntunan Allah. Karena hanya keluarga muslimlah yang benar – benar bersandar pada ajaran islam, Al – Qur’an, dan assunah yang akan mampu bertahan ditengah gempuran zaman yang serba menjerumuskan seperti saat ini.

Sesungguhnya Islam telah menggariskan bahwa tujuan pernikahan adalah untuk melestarikan jenis manusia. Selain itu pernikahan juga untuk ziyadatul-‘amal (meningkatkan aktivitas) bukan hanya sekadar menyempurnakan dinul Islam. Landasan berpikir ini seharusnya menjadi pijakan pertama dalam membangun keluarga Muslim. Dari sini akan terwujud sinergi antara peran suami sebagai qawwam (pemimpin keluarga) dan istri sebagai umm wa rabbatul-bayt (ibu dan pengatur rumah tangga).
Keluarga merupakan salah satu benteng pertahanan dari sebuah bangsa (umat), apabila benteng pertahanannya ini kuat dan kokoh, maka bangsapun akan kokoh, tetapi jika benteng pertahananya lemah lemah, niscaya akan lemah pula. Keluarga yang penuh suasana sakinah, mawadah, dan rahmah persama pasangan yang sholeh dan sholehah. Juga anak – anak yang berbakti serta cerdas tidak dapat terwujud tanpa ajaran, aturan dan tuntunan Allah. Karena hanya keluarga muslimlah yang benar – benar bersandar pada ajaran islam, Al – Qur’an, dan assunah yang akan mampu bertahan ditengah gempuran zaman yang serba menjerumuskan seperti saat ini.
Kekuatan kepemimpinan seorang suami akan membawa corak keluarga yang ideologis. Ketangguhan peran istri akan mencetak keturunan yang berkualitas. Istri yang menyadari keutamaan perannya mendidik anak-anaknya tidak sebatas untuk kepentingan keluarga, namun juga untuk kepentingan umat. Dengan demikian ia telah menyatukan peran ibu dan peran politiknya pada dirinya. Dengan itu pula ia akan mampu menjadi ibu yang mencetak kader-kader politis yang tangguh dan siap diserahi urusan umat.
Suami bertanggung jawab untuk membina dan memastikan penyatuan peran istrinya. Dari pendidikan yang dilakukan oleh suami akan menghasilkan istri yang menyadari pentingnya penyatuan peran ibu sekaligus menjadi ibu yang berkualitas. Predikat ibu berkualitas akan didapatkan oleh seorang ibu jika memiliki kriteria: (i) memiliki akidah dan syakhshiyah islamiyah; (ii) memiliki kesadaran untuk mendidik anak sebagai aset politik dalam perjuangan umat; (iii) memiliki kesadaran politik Islam. Selanjutnya pengasuhan dan pendidikan yang dilakukan oleh ibu yang berkualitas akan menghasilkan generasi yang berkualitas dan politis.
Dari itulah tidak heran kalau akhirnya banyak keluarga muslim goyah, banyak terjadi keruntuhan moral pada anak dan remaja. Hal inilah yang menjadi catatan buruk umat islam, sekaligus ancaman serius bagi nasib islam kedepannya. Hal demikian terjadi karena beberapa faktor permasalahan: 
  • Faktor dalam. Keluarga yang lemah dari segi aqidah, sehingga tidak mempunyai visi dan misi untuk kehidupan yang lebih jelas. Hal ini karena lemahnya pemahaman terhadap hokum – hokum utama didalamnya.
  • Faktor luar, yaitu konspirasi dari pihak asing untuk menghancurkan umat islam dan keluarga muslim dengan berbagai serangan dan aturan pemikiran, juga budaya sekuler yang rusak dan merusakkan, terutama liberalism yang mana menawarkan berbagai macam kebebasan mulai, dari kebebasan individu, berperilaku, beragama, maupun dalam hal pemilikan harta.
Liberalisme berupaya dengan tujuannnya untuk menyingkirkan peran agama dari system kehiidupan manusia dan menjadikan manusia bebas secara mutlak untuk menentukan arah serta cara hidupnya antara laki laki dan perempuan dalam berkeluarga. Dengan serangan inilah tujuannya agar umat islam merasa malu dan juga enggan dengan hokum islam itu sendiri. Sebagai alternatifnya, umat islam harus menuntut penerapann bermacam macam aturan perundangan yang menjamin kebebasan individu meski meraka tahu kalau undang-undang tersebut sangat bertentangan dengan syariat islam.
Konspirasi penghancuran ini diemban karena islam dan umatnya mempunyai pancaman terhadap hegemoni peradaban barat. Juga umat islam memiliki potensi sumber tenaga dan potensi ideology yang jika semua itu disatu padukan maka akan membumihanguskan system kapitalisme global barat.
Keluarga masih berfungsi sebagai benteng pertahanan terakhir, yang mana menjaga hokum islam yang berkaitan dengan kekeluargaan dan perorangan. Selain hokum islam, aspek yang berkaitan yaitu aspek social dan kenegaraan berhasil mereka hancurkan. 
“Al Ummu madrosatun idzha a’dadtaha a’dadta sya’ban thoyyibal a’roq” ibu adalah sekolah. Apabiala engkau mempersiapkannya dengan baik, berarti engkau telah mempersiapkan dengan baik, berarti engkau telah mempersiapkan bangsa yang memiliki dasar – dasar yang baik. Wallahu ‘alam. 
Tim di Muslimah Voice
Nurul sa'adah
Fb:Nurul Sa'adah 

Pencetak Generasi Terbaik

PERAN IBU DALAM MENCETAK GENERASI PARA MUJAHID TANGGUH


Status seorang wanita Muslimah dalam Islam :
Saat lahir, Ia menjadi jalan surga bagi kedua orang tuanya
Saat menikah, Ia menyempurnakan separuh agama suaminya
Saat menjadi Ibu, Surga berada di telapak kakinya.
Tentu bagi mereka yang berusaha ta’at kepada syariat-Nya.Masyaa Allah, luar biasa bukan?
Namun kita tak bisa dipungkiri, bahwa sungguh menjadi seorang ibu adalah fase terpenting dalam perjalanan seorang muslimah.
Begitu pentingnya sehingga banyak sekali dalil baik dari al qur’an maupun hadits Rasulullah saw yang mengangkat tentang ibu,baik tentang tugas dan kewajibanya maupun tentang keistimewaannya.
Mereka adalah Wanita yang kuat, laksana samudera dengan sejuta pesona terpendam.Serupa angin yang menyimpan kekuatan tak tampak mata.
Karena sedemikian pentingnya keberadaan sosok ibu, orangnya tak tergantikan oleh siapapun.
Sebagai hamba Allah yang senang tiasa menta’ati-Nya,seorang istri yang berbakti kepada suaminya,serta menjadi seorang ibu bagi putra-putrinya yang kelak menjadi generasi mujahid yang tangguh or menjadi generasi pejuang Islam pemimpin ummat di masa mendatang.
Tapi tidak sedikit para ibu yang tidak memahami berbagai peran mulia ini.Terlebih dalam sistem kapitalis sekuler yang akhirnya menyeret para ibu untuk meninggalkan tugas dan kewajiban utamanya demi tuntutan materi, karir, dan profesionalitas.
Bahkan tidak sedikit fenomena ini kita temui di kalangan aktivis dakwah.Ada yang sibuk dengan dakwah hingga anak-anak dan rumah tangganya terbengkalai.
Namun, ada juga yang karena kesibukannya dalam mengurus rumah tangga hingga melalaikan amanah dan kewajibannya sebagai hamilud dak’wah.
Tidak sedikit pula yang paham, namun tidak tahu apa yang harus di lakukan agar semua peran bisa seiring sejalan.
Lantas bagaimana sebenarnya panduan Islam sebagai agama yang sempurna dalam memberikan panduan bagi para ibu sebagai pencetak generasi pejuang agar sukses dunia dan akhirat?
--> MEMPERSIAPKAN GENERASI PARA MUJAHID TANGGUH & PEJUANG ISLAM
Menjadi generasi pejuang Islam bukanlah hal yang mudah, namun bukan berarti pula hal tersebut mustahil untuk direalisasikan.
Maka seharusnyalah,generasi pejuang yang siap memuliakan Islam dicetak sedini mungkin.
Mulai dari tahap memilih pendamping,masa hamil,melahirkan dan menyusui hingga ketika calon pejuang Islam ini tumbuh dari masa anak-anak/pra balik/dan akhirnya menjalani masa baligh.
1.Pernikahan: Di awali dengan memilih calon pendamping karena agama,menjalani proses ta’aruf hingga pernikahan semata-mata hanya ingin meraih ridho Allah dan berusaha ta’at pada syariat-Nya.Karena niat yang salah bisa berakibat fatal pada akhirnya,dan prosesi yang salah bisa mengugurkan pahala dan ridho-Nya.
2.Masa Mengandung,Melahirkan, dan Menyusui: Ketika Allah menitipkan amanah berupa janin yang kini berada di perut,disinilah Fase awal mendidik calon pejuang.Untuk itu,rasa syukur dan sabar haruslah senang tiasa dijaga,karena fase-fase berat akan segera menghampiri.
Rasa syukur dibuktikan dengan cara tetap menjalani amanah dan aktifitas sebaik mungkin (Jangan pernah menjadikan calon bayi yang di kandung sebagai penghalan,or bahkan kambing hitam untuk membiarkan kelalaian) sambut ia dengan rasa suka cita.
Mulailah dengan menjalin komunikasi,merangsang pendengaran bayi dengan baca’an Al- qur’an,berdo’a dan bermunajah untuk memiliki anak pejuang,
Sebagaimana hadits dari Abu Hurairah,beliau berkata: Rasulullah saw bersabda: “tiga do’a yang tidak lagi ada keraguan akan di kabulkan oleh Allah swt yaitu : do’a orang yang di zholimi, do’a orang melakukan perjalanan, dan do’a orang tua terhadap anaknya (Hr. Tirmidzi dan Ahmad).
Adapun rasa sabar di buktikan melalui pengendalian emosi,dan tetap ta’at dengan syariat-nya.Pun ketika ia telah lahir,jangan pernah terbesit bahwa kehadirannya adalah beban,melainkan anugrah.
Berilah nama yang terbaik,sebagaimana hadits dari Abu Darda,beliau berkata : Rasulullah saw bersabda: “ Sesungguhnya kalian pada hari kiamat nanti akan dipanggil dengan nama kalian dan nama bapak kalian maka perbaikilah nama kalian. (HR. Abu Dawud dengan sanad Hasan).
Menjalin komunikasi dan mulai mengajarkan lafas ayat-ayat Allah terlebih saat menyusui,selain menjalin kedekatan juga efektif dalam membantu sang bayi mulai menghafal ayat-ayat Allah.
3.Saat usia dini merupakan masa golden age di mana sang anak menjalani masa adaptasi dan menjiblak apa yang ada di sekitarnya,terutama apa yang di lihat orang tuanya.
Disinilah peran orang tua khususnya ibu untuk melakukan stimulasi yang menyentuh aspek akal dan naluri,mengajarkan adab,akhlak yang baik, dan mulai membekalinya dengan tsaqofah Islam seperti siroh Nabi dan sahabat,ilmu al- qur’an,dsb.
Rasa ingin tahu sang anak yang besar menjadikan seorang ibu harus tanggap dan cerdas dalam menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkannya.
4.Usia pra baligh: Saat dimana mulai muncul perhatian terhadap lawan jenis sehingga pembiasaan terkait pemisahan anak laki-laki dan perempuan, menjelaskan hukum pergaulan dan batasan-batasan aurat.
Masa ini juga merupakan masa dimana anak mulai peka terhadap lingkungan sehingga mulai dilatih kepekaannya dalam membaca kondisi ummat Islam mulai dari yang ada di sekitarnya sampai kondisi ummat Islam di negeri muslim lainnya.
5.Usia baligh: Masa dimana dia menjadi sosok manusia yang telah siap untuk “Taklif hukum” sehingga perlu untuk memantapkan akidahnya dengan mulai mengikuti perhalaqohan secara intensif,memunculkan kesadaran dalam dirinya tentang berbagai kewajiban diantaranya kewajiban untuk terikat hukum syarah,berda’wah,dsb.
Di samping itu,dia telah memiliki jiwa kepemimpinan sehingga dilatih untuk hidup berjama’ah (berorganisasi) seperti di lingkungan sekolahnya,menyusun target-target dan mengevaluasinya, dan mengelola suatu kegiatan besar dalam momen-momen tertentu.
Adapun menurut Al- Munawy dalam Faidhu al- Qadir bahwa mendidik anak adalah dengan melatih jiwa mereka,mendidik dengan akhlak yang baik dan melatih mereka untuk melakukan tuntunan-tuntunan syara’. Memuliakan mereka tidak dengan kemewahan dunia dan melampiaskan keinginan mereka namun mendidik mereka dengan adab-adab yang terpuji baik ucapan maupun tindakan.
--> MENANAMKAN AQIDAH ISLAM
Pendidikan aqidah merupakan pendidikan dasar yang pertama yang harus di tanamkan orang tua kepada anaknya, karena ia merupakan landasan kepribadian sang anak sekaligus menjadi pandangan hidupnya.
Ex:
Mengajarkan kepada Anak tentang sifat-sifat Allah, dan hanya Dialah satu-satunya tempat meminta,konsep Qadha dan qadar,rezeki,ajal,tawakkal.
Menanamkan kecintaan kepada Rasulullah saw dan sunnahnya,juga kecintaan kepada al-qur’an dan memotivasi untuk menghafalnya.
Menceritakan siroh dan kisah para Nabi dan Rasul dalam membela dan memperjuangkan aqidah yang haq.Misalnya: Kisah Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Yusuf, Nabi Isa, Rasulullah SAW termasuk para sahabat r.a seperti Bilal bin Rabah, Keluarga Yassir, Mush’ab bin Umair,dll.
Menjauhkan mereka dari media baik cetak maupun elektronik yang berisi kemusyrikan dan hal-hal yang bertentangan dengan syariah seperti yang berisi kekerasan dan pornografi sembari menjelaskan kesalahan dan kebathilan tayangan tersebut.
Menuturkan kepadanya riwayat-riwayat yang shahih mengenai gambaran surga dengan segala kenikmatannya dan neraka dengan berbagai azabnya yang pedih.
Dengan demikian sejak dini anak telah memiliki gambaran yang benar tentang perkara-perkara gaib sehingga dapat memberikan pengaruh dalam kehidupannya.
-->MENGAJARKAN POKOK-POKOK SYARIAH
Diantaranya mengajarkan sholat,adzan,sholat berjama’ah,puasa,hukum-hukum seputar pergaulan,thaharah, tata cara berpakaian,memberikan makanan dan minuman yang halal.
Di samping itu juga mengajari pentingnya jihad fiy sabilillah,membiasakan amar makruf dan nahi munkar, dan membudayakan akhlakul karimah seperti menjauhi sifat-sifat tercela,berbuat baik kepada kedua orang tua,menghormati yang lebih tua,menjaga adab meskipun sedang bermain,membudayakan adab-adab makan,minum,berbicara maupun bermajelis,dsb.
-->KETELADANAN DARI KE-DUA ORANG TUANNYA
Adapun cara yang paling efektif dalam mendidik anak menjadi generasi mujahid tangguh or menjadi pejuang Islam adalah Dengan keteladanan dari orang tua.
Jika orang tua menunjukkan semangat berjuang dan berkorban kepada anak-anaknya,yang bisa dilihat oleh si anak dalam mendakwahkan Islam,maupun dalam perbincangan sehari-hari di keluarga, maka dengan sendirinya telah menanamkan semangat juang kepada anak.
Ditambah dengan melibatkan anak dalam aktivitas dakwah,mensuasanakan rumah dengan aktivitas halaqoh,menghadiri tatsqif,dsb.
Biasakan anak berinteraksi dengan para aktivis dakwah yang mukhlis dengan membiasakan mengajak mereka ditiap-tiap tatsqif yang diikuti.
Karena inshaa Allah, interkasi dengan orang-orang yang mencintai dakwah dan jihad di jalan Allah ditambah dengan keteladanan dan pembiasaan dari orang tua merupakan sarana yang sangat efektif untuk menanamkan semangat juang dan jiwa rela berkorban demi kemulian Islam dari pada sang anak.
-->PENUTUP
Mungkin yang terbayang dalam benak kita (baik yang masih gadis, calon ibu, maupun bagi yang sudah menjadi ummu), bahwa betapa beratnya tugas seorang ibu.
Namun, bersusah payah saat mereka masih usia dini adalah lebih mudah ketimbang mengarahkan mereka ketika telah beranjak dewasa.Bukankah demikian???
Sebelum mengakhir tulisan singkat ini, sepotong do’a terucap: Semogai Allah merahmati kita dengan anak-anak yang shalih dan shalihah calon pejuang Islam dengan tetap menapaki jalan dakwah sebagimana dalam firman-Nya:
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyeruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar,dan beriman kepada Allah.” (QS.Ali Imran :110).


Wallahu a’lam
Referensi:
1.Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia.”Selamatkan Generasi dari Kapitalisasi dan Liberalisasi pendidikan”
2.Muh.Ishak dan Alik Munfaidah.”Mendamba Anak Shaleh”
3.Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia.2014.”Cermin Wanita Shalihah” Edisi 6.
4.Media politik dan dakwah “al- wa’ie” Maret 201

Inilah kisah Hijrahku

Baru sempat nulis,,,,


Mungkin banyak yang bertanya-tanya pada keputusanku untuk menjadi seorang muslimah seutuhnya,,ya aku yang awalnya tomboy,berteman dengan cowok yang nggak ada batasanya,sikap yang tidak sesuai dengan islam, banyak hal yang kulakukan melanggar aturan dari Allah SWT ya sang pembuat peraturan yang aku sendiri berkali-kali mencari alsan untuk nggk mau taat tapi semuanys sia-sia dan terbantahkan ,,,ya alasan yang sebenarnya agar aku tidak terikat dengan aturan dari yang Maha sempurna Allah SWT.Suatu saat aku termenung dan bertanya pada diriku,,"kenapa aku nggk mau taat sama Allah?bukankah saat Allah memberikan nikmatnya pada semua makhluk ciptaan-Nya tanpa memandang engkau layak mendapatkannya atau tidak,tapi Allah Adil dengan semuanya,,,,ya aku menangis sejadi-jadinya saat itu betapa sombongnya aku dengan menolak semua kebenaran yang ada,Alasanku untuk berubah hanya satu aku ingin taat sama Allah,karena aku sadar diri ini seorang Hamba .Dan Hamba sepatutnya senatiasa taat pada RAbb-Nya,,,
kini bagiku......
Menjadi seorang Muslimah itu ialah sebuah kebanggaan ,,ya kenapa harus malu,minder,takut dengan semua perubahan yang ada,,,
Aku Bangga,,
ketika dibilang ga modis, dengan memakai kaos kaki, kerudung lebar dan bergamis
karena bagiku itu adalah pakaian surga
Aku bangga,
ketika dibilang tidak laku, dengan tidak berpacaran
karena bagiku pacaran hanya ada setelah pernikahan
Aku bangga,
ketika dibilang ga gaul, dengan menjaga batasan pergaulanku
karena bagiku, teman sejati adalah yang senatiasa mengingatku dan mengajakku mengenal Rabbku,,
Aku bangga,
ketika dikatakan juling, dengan menjaga pandangan
karena bagiku, pandangan adalah anak panah neraka yang akan melukaiku dan mengajakku bermaksiat pada Rabbku
Akupun bangga,
ketika dibilang kuno, dengan menjaga ucapan dikala orang lain bergunjing
karena bagiku, lidah adalah hal yang patut dijaga .
Dan aku Bangga menjadi Muslimah yang senantiasa berada dalam ketaatan dan menjadi muslimah yang dirindukan Surga hingga Bidadari pun Cemburu Padanya
Untukmu ya 'Ukhty' yg sedang berusaha untuk menjadi wanita yg shalihah
Ya 'Ukhty' ...
Jadilah WANITA yg BERLEMAH LEMBUT dengan DIDIKAN AGAMA, merendahkan diri dengan AKHLAK TERPUJI dan BAIK HATI
Jadilah WANITA yg dapat MENJAGA AURAT dan HARGA DIRI dan KEHORMATANMU agar engkau menjadi wanita yg dimuliakan dalam Agama yg hanif ini dan dicintai Allah dan Rasul-Nya.
Jadilah WANITA yg senantiasa HAUS akan ILMU dan NASIHAT, dan jadikan TEGURAN sebagai persiapan untk menjadi WANITA YANG SHOLIHAH
Jadilah juga seorang WANITA yg mampu menjadi ANAK, IBU DAN ISTERI yg SHALIHAH serta HAMBA ALLAH yang BERIMAN dan BERTAQWA .....
Jadilah seorang Hamba Allah yang senatisa menebarkan kebenaran Islam,hingga islam tersebar di seluruh pelosok negeri ini,,kesempurnaan Islam yang HAKIKI dengan jalan yang Mulia yaitu Dakwah,,
Hijrah itu tak menunggu kau sempurna,justru saat kau berhijrah mengkaji islam kesempurnaan menjadi seorang Muslimah akan kau temukan,,,
#Untaian kata Untukmu para Muslimah,,,
#Yuk Hijrah,Tunjukkan identitasmu sebagai seorang Muslimah yang akan membuat para bidadari cemburu akan keberadaanmu di Dunia,...senantiasa mengharap keridhoan Allah
#IbuGenerasiPenakluk
-Nurul Sa'adah
-fb:Nurul Sa'adah


Yuk kenalan

“Rayahnya (panji peperangan) Rasul SAW berwarna hitam, sedang benderanya (liwa-nya) berwarna putih”.(HR. Thabrani, Hakim, dan Ibnu Majah)

Dulu pertama kali sy kenal dengan bendera ini tahun 2013,tepatnya saat moment Muktamar Khilafah di Palangkaraya,,
Di amanahkan bwt masang bendera saat itu,Alhamdulillah Allah ijinkan memegannya pertama kali

3 th yang lalu kita bertemu..pandangan pertamaku tertuju padamu
Saat itu aku belum begitu mengenal mu.. bahkan namamu pun baru ku tau saat itu..
Kini tak ingin ku melepaskan mu.. ku jadikan kau utama perjuangan hidupku..
Sungguh Hidupku,untkmu
Sungguh  akan ku usahakan dan curahkan berkorban hingga dia akhir hidupku
Engkau berkibar di BumiMilikAllah ini dengan diterapkannya #Syariah Allah secara Kaffah (Keseluruhan), dibawah naungan #Khilafah Islamiyah. Guna Mewujudkan #IslamRahmatanLilAlamin.
Atau diri ini menemui ajal sedang dalam mengusahakannya. Jika dengan ini Allah Swt Sang Pencipta Meridhoi Diri ku, Mengampuni Dosa-dosaku, mengkaruniakan ku Pahala yang berlimpah, dan memasukan ku kedalam Surganya Allah Swt. Amiin..semoga Allah meridhoiku..

V-Day:Budaya Perusak Generasi...




Generasi saat ini sungguh di ambang batas kehancuran,banyak media-media yang menjadi cukong ala kapitalis untuk mencengkram para generasi..tak ubah dengan yang namanya perayaan V-Day..budaya  asing yang akanmenjadi racun kesilauan untuk para generasi.Kenapa demikian,?Karena moment ini berkaitan dengan gaya hidup dan cara pandang sebuah keyakinan. Jadi tergolong menyerupai gaya hidup atau budaya orang kafir. Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami” (HR Tirmidzi no. 2695)
Nah, dengan  hadits ini saja kita udah bisa tahu bahwa menyerupai suatu kaum, yakni mengikuti budaya mereka bisa membahayakan akidah kita. Jadi, kita harus hati-hati!Sobat, buat kamu yang lagi pacaran, Valentine Day ini disulap jadi hari kasih ayang sedunia. Yang dimana para remaja saling mengekspresikan kasih sayangnya seperti bertukar kado, cokelat, bunga mawar dan lainnya. Bahkan perayaan Valentine Day ini tak cuma bicara tentang kasih sayang dan nggak cukup jika hanya bertukar kado, cokelat, dan bunga mawar saja. Parahnya lagi ternyata perayaan aneh ini sering diperingati dengan minum-minuman keras dan gaul bebas. Bahkan ada anggapan bahwa Valentine Day tanpa seks, bagai sayur tanpa garam. Uh, Bahaya banget sobat!
Ya, siapa sih yang nggak kenal pesta Valentine? Hajatan ini seolah udah jadi menu wajib sebagian besar remaja sedunia untuk melampiaskan kasih sayangnya dengan gandengan mereka masing-masing, dalam arti mengobral harga diri atas nama cinta. Bahkan pada tanggal 14 Februari itu sering dipakai buat momen pemberian "cinta" cewek secara sempurna dengan menyerahkan keperawanannya kepada cowoknya! Waduh, ini emang udah nggak bener sama sekali! Katanya sih, atas nama cinta. Sumpah, itu bohong banget. Kalo memang sayang dan cinta, nggak bakalan ngorbanin kehormatan dan harga diri melalui ajang seks bebas. Sudah dosa merayakannya, eh ditambah dengan aktivitas pacaran dan bahkan seks bebas. Astagfirullah...
Jadi nih, kalo cinta diartiin juga dengan harus main seks pranikah, itu namanya bukan cinta sehat yang bisa kamu raih, tapi justru cinta yang ternoda. Cinta yang sakit! Itu bukan atas nama cinta, tapi atas nama seks! Ada baiknya inget nih pesan Rasulullah saw. melalui sabdanya:
“Apabila zina dan riba telah merajalela di suatu negeri, maka rakyat di negeri itu sama saja telah menghalalkan dirinya untuk menerima azab Allah.” (HR ath-Thabrani, al-Hakim dari Ibnu Abbas)
Herannya, perayaan aneh ini ternyata masih digemari dan bahkan terus dirayakan oleh remaja muslim di seluruh dunia! Khususnya di Indonesia. Kita bisa lihat, setiap tahunnya di tanggal 14 Februari pasti para remaja pada sibuk ngoceh nggak ada habisnya tentang Valentine Day. Dan remaja yang merayakannya pun hampir dari semua kalangan, dan yang paling memprihatinkan lagi adalah remaja yang merayakan hari Valentine ini banyak dari mereka yang mayoritas muslim!
Hari Valentine di tanah air seolah sudah menjadi "hajatan" perayaan cinta di antara mereka. Kondisinya pun sangat parah, yakni dirayakan dengan seks bebas.Pengungkapan cinta yang "lebih". Ingin sesuatu yang berbeda setelah sekian tahun berpacaran.
"Tapi kan, ini hanya sebagai perayaan budaya? Nggak papa dong kita rayakan!"di antara kamu ada yang bilang kayak gitu. Hei, budaya mana dulu ! Itu budaya Barat, dan kalau kamu ngajak ngomongin budaya, bahkan hari Valentine sama sekali nggak cocok sama budaya dan ajaran Islam yang menjunjung tinggi kesopanan dan kehormatan orang lain. Beehh...Kena deh !
Tapi, kenapa masih banyak remaja yang masih merayakan hari Valentine ini ya? Nah, ini dia yang menjadi kekhawatiran tersendiri bagi kita, remaja muslim yang tidak ingin merayakannya. Namun faktanya banyak sekali teman-teman kita yang masih merayakannya. Banyak remaja yang menggandrungi perayaan aneh ini. Alasannya pun banyak. Ada yang ingin dibilang gaul, ada yang bilang kalau Valentine itu keren dan harus dirayain, bahkan ada yang cuma sekadar ikut-ikutan! Heddeehh...
Sobat, Islam nggak pernah mengajarkan masalah ini. Nggak ada anjuran untuk ikut-ikutan ngerayain Valentine Day, seperti dalam firman Allah SWT:
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangka belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (QS al-An’am: 116)

Hal ini sungguh sangat miris mengingat bahwa hukum merayakan Valentine Day menurut Islam adalah HARAM !!!
Ken Swiger dalam artikelnya “Should Biblical Christians Observe It?” mengatakan, “Kata “Valentine” berasal dari bahasa Latin yang artinya, “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Maha Kuasa”. Kata ini ditunjukan kepada Nimroe dan Lupercus, tuhan orang Romawi”.
Disadari atau nggak, ketika kita meminta orang jadi “to be my Valentine”, berarti sama aja kita meminta orang jadi “Sang Maha Kuasa”. Jelas perbuatan ini merupakan kesyirikan yang besar, menyamakan makhluk dengan Sang Khalik, menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala. Icon si “Cupid (bayi bersayap dengan panah)” itu adalah putra Nimrod “the hunter” dewa matahari. Waduhh... jelas banget ini momen perusakan akidah besar-besaran, sob! Nggak bisa disepelekan nih.
Dalam Islam nggak ada Valentine, karena istilah asing ini merupakan impor dari agama atau kepercayaan lain. Sejarah dan esensinya aja nggak sejalan sama pemikiran dan akidah Islam. Lalu ngapain juga kita rayakan?
Menurut mereka yang semangat merayakan Valentine Day, ada semacam kepercayaan kalau melakukan maksiat dan
larangan-larangan agama seperti berpacaran, bergandeng tangan, berpelukan, berciuman, bahkan sampai hubungan seks di luar nikah di kalangan sesama remaja itu menjadi boleh. Alasannya sih, semua itu adalah ungkapan rasa kasih sayang, bukan nafsu biasa. Owalahh.. Padahal kasih sayang yang dimaksud adalah zina yang diharamkan.

Allah Swt. Befirman:
“Dan janganlah kamu mendekati zina karena sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS al-Israa’: 32)
Nah sob, ayat ini sudah jelas bahwa mendekati zina saja Allah melarang kita, apalagi sampai kita melakukannya. Na'udzubillah min zalik.
Cinta itu nggak harus selalu dimanifestasikan dengan seks. Buktinya kalau PSK-PSK itu, apa mereka melacur dengan alasan cinta? Nggak kan? Mereka demi uang, demi memenuhi nafsu hedonismenya. Jangan samakan cinta dengan seks, nggak perlu disamakan dan dihubung-hubungkan.
Sobat, kata siapa dalam Islam nggak ada yang namanya cinta dan kasih sayang? Islam sendiri adalah agama kasih sayang dan menjunjung cinta terhadap sesama. Dalam Islam, cinta sangat dihargai dan menempati posisi sangat terhormat, dan suci. Islam sama sekali nggak phobia sama yang namanya cinta, dan Islam sama sekali tidak menjadikan cinta jadi komoditas yang rendah dan murahan.
Jadi, kesimpulannya, yang disebut "cinta" dan "kasih sayang" dalam hari Valentine itu hanyalah omong kosong belaka. Sebagai generasi pemuda muslim, kita harus bisa memfiltrasi ajaran-ajaran dan pemikiran yang bukan berasal dari Islam, serta kita harus berusaha sekuat tenaga kita untuk mengimplementasikan ajaran Islam dalam kehidupan kita sehari-hari, agar ajaran Islam nggak terkontaminasi oleh budaya-budaya asing yang terbukti hanya menimbulkan keresahan dalam masyarakat muslim. Jangan rayakan Valentine Day yang nggak jelas ini, terlebih lagi Valentine Day adalah ajaran barat yang sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita berteriak bersama: "Say No to Valentine Day!" karena banyak sekali kejelekan yang didapat ketimbang manfaatnya yang hampir tidak ada dari Valentine Day.

So, nggak ada istimewanya Valentine Day bagi kaum muslimin yang tetap berpegang teguh pada ajaran Islam, karena Valentine Day adalah budaya jahiliyah bin kufur..Jadi kita kudu waspada.Kalo kata bang NAPI sih waspadalah!Waspadalah!Waspadalah!!!
Apalagi kita para jomblowati yang saat ini sedang berharap kepada Ilahi,tuk bisa menjaga diri dan hati,dari para lelaki pemburu hati yang  suka ngajak pacaran ala islami,yang ngejar-ngejaar sehari-hari,tuk ngajak sama-sama  maksiat pada Ilahi,apalgi  yang saat ini  lagi demen-demenan or kepincut ama si Do’i yang udah ngjak PACARAN dengan janji-janji sehidup- semati,.Ingat ya neng,tak ada cinta sebelum  ikatan pernikahan,apalagi nunjukin cintanya pas moment ginian,tu mah  CINTA berbalut maksiat.,,ruginya dunia akherat dah..#UdahPutusinAja
#YukNgaji
Tetap istiqomah bersama kebenaran Islam.